Selasa, 21 Juni 2016

Muara Sendu

Angin menerbangkan namamu kembali
Di daun kering yang gugur kemarin sore
Sinar sore ini, semburat merah malu-malu
Pelan-pelan menggoyahkan pertahanan

Sudah lama sekali bukan?
Hingga aku lupa dimana kunci itu berada
Seingatku, kulempar jauh kedasar samudra
Tapi gelombang itu..sama seperti angin sore kemarin
Ia membawa kunci itu kembali

Hampir saja kubakar kotak terkutuk itu
Kalau saja tak kau ingatkan akan pilunya kerinduan
Rindu itu tak cuma berat dan lebih dari sekedar menyiksa
Bahkan aku gila saja ia tetap bergelayut manja
Tegak lurus dengan bayang-bayang takdirku

Satu...dua..tiga..dan kali ini
Ya kali ini aku takkan menunggu masehi berganti nama
Karena angin hanya akan menerbangkan namamu sekali
Dan riak gelombang belum tentu seelok kemarin sore
Aku rindu..dan sendu ini hanya bermuara padamu

Kamis, 09 Juni 2016

Malaikat Kecil Tak Bersayap

Wajah kecil itu hampir saja punah
Hilang ditelan asap pabrik kota ini
Kuning langsatnya telah kelam tercemar limbah para penyampah
Namun, selalu...ia sunggingkan seulas senyum penawar pahitnya kehidupan

Wajah kecil yang tak pernah padam ketika lilin kehabisan sumbunya
Yang tak kalah bersinar dikala mentari menghujat kulit keriput para pinggiran
Setiap malam ia akan selalu selipkan bisikan yang hanya mampu menembus langit malam..tapi tidak dinding sang hartawan

Wajah kecil yang selalu kulihat
Yang kuduga jelmaan malaikat
Sayapmu...hanya aku dan Tuhan yang lihat
Tanpa perlu mengepak...engkau tetaplah malaikat

Kamis, 02 Juni 2016

Sepertiga Malam Ini

Aku butuh jiwa yang seperti lautan
Menyimpan segalanya tapi tetap terlihat tenang
Aku butuh keberanian seperti gunung
Yang tinggi dan menjulang tapi tak pernah mencakar langit
Semua yang datang seperti badai di musim semi
Begitu mengejutkan
Begitu menakutkan
Semua harapan dan impian ternyata hanyalah oase
Begitu menyakitkan
Begitu memilukan
Semua itu, ingin aku ceritakan pada-Mu
Pada sepertiga malam ini
Aku akan berkunjung lagi setelah sekian lama mengelak
Maukah Engkau bukakan pintu-Mu lagi untukku?
Sepertiga malam ini, aku datang

Senin, 09 Mei 2016

Jika Kereta Kencana Datang


Jika kereta kencana datang
Aku tetap tak mau pergi
Kalau boleh kupinta
Pakukan saja kakiku hingga perut bumi
Biar bumi yang memelukku

Jika kereta kencana datang
Katakan, aku sudah lelah menunggu
Jangan kirimkan seribu punggawa
Aku tak kan mempan dibujuk
Ini sudah lebih dari sekedar terlambat

Jika kereta kencana datang
Sampaikan asaku yang telah menjadi debu
Tolong hanyutkan ia jauh kedalam Samudera Hindia
Biar ia menjadi saksi bisu untuk anak cucu nanti

Rabu, 13 April 2016

Arang dan Abu

Sepasang kaki yang melangkah ragu-ragu
Jarinya mengetuk daun pintu hanya sekali
"Tok..", tapi hanya bunyi angin yang terdengar
Lama ia pandangi
Lama ia renungi
Lantaran hina telah ia sandang sedari pandai mengaum
Toh, lama kelamaan nyalinya bak arang yang menunggu waktu untuk menjadi abu
Hingga sang angin yang tak tega
Mulai merayu-rayu agar jangan terburu-buru berputus asa
Dihembuskannya semangat dan tekad baja agar hina tak lagi hinggap
Hingga sang arang perlahan mengeluarkan percikan api kecilnya
Tak apalah, api kecilpun mampu membakar hutan jika ia mau
Dan disinilah ia kini didepan daun pintu yang sudah lama berlumut
Memikirkan untuk tidak lagi mengetok apalagi menengok
Kedua tangannya ia kepalkan kuat-kuat
Sekali dobrak...ia tak ingin menjadi abu
Yang nantinya diterbangkan angin lalu hilang tak berbekas

Selasa, 05 April 2016

Mei

Dia adalah Mei. Gadis kecil berambut pirang karena sengatan matahari siang. Pertama kali melihatnya, mohon maaf aku sedikit jijik mungkin benar-benar jijik hingga aku membuang cilok yang baru saja kubeli dari abang- abang yang biasa nongkrong didepan kompleks. Kalau diingat-ingat hmm...aku lebih merasa jijik pada diriku sendiri kala mengingat kejadian waktu itu. Mei, gadis yang ramah dengan kemampuan komunikasi yang sangat bagus untuk gadis seusianya dengan latar belakang kehidupan yang memilukan. Istilah zaman sekarang "ice breaking", ya..dia mampu melakukannya dengan baik.
" Selamat siang kakak, ini ciloknya kenapa dibuang? Boleh saya ambil?"
".......itu kotor jangan", aku langsung mundur lima langkah mengantisipasi bau tidak sedap yang mulai menguap diudara.
" Tidak apa-apa kak, kan belum lima menit dan tidak menyentuh tanah". Aku bergumam dalam hati betapa dangkalnya pemikiran bocah kecil ini dengan menaksir 5 menit dan belum menyentuh tanah sebagai patokan.
"Tapi sudah kotor", aku kembali menegaskan.
" Ah...kalau itu mah saya tiap hari kerjanya selalu kotor kakak, karena berani kotor itu baik..perut tidak lapar dan bisa sekolah", Mei tertawa sambil menunjuk karung seukuran orang dewasa yang sudah terisi setengahnya. Topi merah kumal yang ia pakai aku seperti mengenalinya. Ada slogan Tut Wuri Handayani yang sudah samar-samar terlihat. Praduga ku salah, bau menyengat itu berasal dari karung yang ia isi dengan botol-botol plastik dan kardus bekas. Buktinya setelah ia melepaskan karung tersebut dan mendekatiku, aku hanya mencium bau matahari. Bau pekerja keras dan tekad untuk hidup lebih baik.
"Kakak terima kasih ya.."
Aku tertunduk malu tetapi di dalam hati aku berteriak keras.
"Terima kasih banyak Mei"

Selasa, 22 Maret 2016

Cenayang

Setangkup air, seulas dupa
Setangkai mawar,kujadikan penawar
Wahai duka dan kau suka
Mari menguap diatas cenayang
Kabari aku berita bahagia
Agar mereka tetap percaya
Usir duka undanglah suka
Wahai cenayang
Tak ada bedanya nyata dan takhayul bagiku
Toh hidup ini adalah drama
Mari kita berlakon layaknya para wayang
Biar dalang yang tentukan
Wahai cenayang
Mari menari bersama jemariku